Indomie, Kasus Taiwan, dan Standar Kualitas

Adalah hal lumrah jika untuk produk yang laku, distribusinya bisa tersebar hingga ke mana saja. iphone atau blackberry contohnya. Produk untuk pasar luar negeripun bisa masuk ke Indonesia. BM istilahnya.

Kasus Indomie bisa jadi sama, bedanya, ini produk untuk dimakan yang tentunya perlu memenuhi standar sehat sesuai aturan baku. Nah, yang jadi masalah , di Taiwan ditemukan produk yang tidak memenuhi standar sehat di sana. Produk untuk pasar manakah ini seharusnya?

Terlepas dari itu semua, sebagai produk yang telah mendunia, seharusnya Indofood memiliki standar baku sendiri. Akan jauh lebih baik jika setiap produk lolos mutu untuk semua negara, bukan lolos di negara A, tapi tidak lolos di negara B. Kasus Taiwan bisa jadi pelajaran untuk semua, jika suatu produk sudah go international, maka untuk brand yang sama, kualitas juga harusnya sama, sesuai standar perusahaan, bukan hanya sesuai standar negara tertentu. Jika kualitasnya beda, ya sekalian saja pakai brand yang beda.

Market share Indomie dalam negeri sudah banyak tergerus oleh mie sedaap. Dalam arti, untuk pasar dalam negeri, trend declining indomie memang sudah berlangsung cukup lama. Di banyak daerah, mie sedaap sudah menjadi raja. Tapi indofood tidak hanya punya indomie. Masih ada sarimi dan supermi. Dua merk itu saban hari keluar iklannya di TV. Entah itu sarimi soto koya, atau supermi yang jadi sponsor utama acara TV tertentu. Yang jelas setahu saya, indofood masih punya 2 brand untuk tetap dominan di pasar mie instant.

Btw, akhir - akhir ini saya tidak pernah melihat iklan indomie. Apakah indomie menyerah thd mie sedap atau memang saya yang tidak pernah nonton TV? Jika saya boleh memberi saran, ada baiknya iklan indomie lebih ditingkatkan. Kasus Taiwan mungkin saja efeknya kecil terhadap end user secara langsung, tapi bagi reseller, efeknya bisa jadi instant. Toko yang biasanya mau membeli indomie sepuluh karton, karena khawatir susah laku, akhirnya pembeliannya menurun jadi lima karton. Misal serapan pelanggan toko tersebut masih sembilan karton, tetap saja yang terkonsumsi hanya lima karton, sisanya beralih ke merk lain yang tersedia. Secara kolektif, penurunan market share indomie bisa sangat signifikan. Tanpa iklan, pedagang akan merasa lebih aman menstok merk lain. Sama - sama menghasilkan uang, mengapa harus menstok produk yang beresiko, sementara brand ownernyapun seolah tidak peduli, bukan begitu?

Jika anda tertarik dengan artikel – artikel di blog ini, silahkan berlangganan gratis via RSS Feed, atau jika anda lebih suka berlangganan via email, anda bisa mendaftar di Sini.

2 komentar:

Seringkali hal ini juga berbau politik dan bisnis negara, tak melulu soal standar mas...
sriyono suke,
Budityas said...
Memang itu mungkin salah satunya. Sama juga dengan kampanye hitam CPO, faktor persaingan bisnis jg sering disebut sbg penyebab. Itu cara pandang keluar, tapi ada baiknya juga kita instropeksi. Saat produk kita mampu go internasional, standar kualitas jg harus benar2 diperhatikan. Sama juga kasus Sinar mas dengan cara tanam sawitnya yang bermasalah. Meski tetap dilindungi sbg perusahaan nasional, tp juga perlu instropeksi dan memperbaiki diri.

Post a Comment

Untuk lebih mudah berkomentar, pilih opsi Name/Url. Anda tinggal isi nama saja, plus alamat situs jika anda punya blog/website. Ayo berbagi opini.

 
poside by budityas |n|e