2

Indomie, Kasus Taiwan, dan Standar Kualitas

Adalah hal lumrah jika untuk produk yang laku, distribusinya bisa tersebar hingga ke mana saja. iphone atau blackberry contohnya. Produk untuk pasar luar negeripun bisa masuk ke Indonesia. BM istilahnya.

Kasus Indomie bisa jadi sama, bedanya, ini produk untuk dimakan yang tentunya perlu memenuhi standar sehat sesuai aturan baku. Nah, yang jadi masalah , di Taiwan ditemukan produk yang tidak memenuhi standar sehat di sana. Produk untuk pasar manakah ini seharusnya?

Terlepas dari itu semua, sebagai produk yang telah mendunia, seharusnya Indofood memiliki standar baku sendiri. Akan jauh lebih baik jika setiap produk lolos mutu untuk semua negara, bukan lolos di negara A, tapi tidak lolos di negara B. Kasus Taiwan bisa jadi pelajaran untuk semua, jika suatu produk sudah go international, maka untuk brand yang sama, kualitas juga harusnya sama, sesuai standar perusahaan, bukan hanya sesuai standar negara tertentu. Jika kualitasnya beda, ya sekalian saja pakai brand yang beda.

Market share Indomie dalam negeri sudah banyak tergerus oleh mie sedaap. Dalam arti, untuk pasar dalam negeri, trend declining indomie memang sudah berlangsung cukup lama. Di banyak daerah, mie sedaap sudah menjadi raja. Tapi indofood tidak hanya punya indomie. Masih ada sarimi dan supermi. Dua merk itu saban hari keluar iklannya di TV. Entah itu sarimi soto koya, atau supermi yang jadi sponsor utama acara TV tertentu. Yang jelas setahu saya, indofood masih punya 2 brand untuk tetap dominan di pasar mie instant.

Btw, akhir - akhir ini saya tidak pernah melihat iklan indomie. Apakah indomie menyerah thd mie sedap atau memang saya yang tidak pernah nonton TV? Jika saya boleh memberi saran, ada baiknya iklan indomie lebih ditingkatkan. Kasus Taiwan mungkin saja efeknya kecil terhadap end user secara langsung, tapi bagi reseller, efeknya bisa jadi instant. Toko yang biasanya mau membeli indomie sepuluh karton, karena khawatir susah laku, akhirnya pembeliannya menurun jadi lima karton. Misal serapan pelanggan toko tersebut masih sembilan karton, tetap saja yang terkonsumsi hanya lima karton, sisanya beralih ke merk lain yang tersedia. Secara kolektif, penurunan market share indomie bisa sangat signifikan. Tanpa iklan, pedagang akan merasa lebih aman menstok merk lain. Sama - sama menghasilkan uang, mengapa harus menstok produk yang beresiko, sementara brand ownernyapun seolah tidak peduli, bukan begitu?

3

Aqua Yang Hebat

Bicara produk air dalam kemasan, kinerja brand satu ini memang luar biasa. Saat lebaran, saat harga membumbung tinggi, aqua tetap dipilih, meski produk lain harga tetap. Meski sering diberitakan miring, penjualan tetap stabil. Bagaimana cara menggoyahkan tahta Aqua sbg leader air mineral kemasan?

Untuk jenis mineral galon, banyak yang tampil, tapi semua relatif kecil. Jika ada yang tumbuh, bukan market share Aqua yang termakan, tapi pemain kecil lain yang gulung tikar dan menghilang. Untuk mineral botol, rasa aqua memang lain. Ada aroma kelapa (atau aroma tisu?) yang jelas lebih enak rasanya. Untuk minuman mineral gelas, untuk event2 dadakan macam layatan, mungkin seadanya, tapi untuk acara kantoran atau lebaran, aqua dipilih karena gengsinya.

Dengan harga jual produk seperti saat ini, aqua adalah profit dan profit. Tidak perlu masuk bursa dan memperdagangkan saham, aqua tetap kaya. Bagaimana cara mengalahkan dominasi aqua?
3

Kegagalan Pemasaran Produk Baru FMCG

Ada banyak tantangan yang membuat sebuah produk/brand FMCG baru seringkali gagal di pasaran. Beberapa diantaranya :

1. Perbedaan kualitas
Ada kalanya karena suatu bisnis sedang booming, sebuah perusahaan besar ikut terjun ke bisnis yang semula dominan berisi pemain - pemain kecil. Hanya mengandalkan nama besar dan distribusi yang bagus saja seringkali tidak cukup jika produk yang di launch kualitasnya kurang kompetitif. Pemain kecil mendapatkan pangsa pasar terutama karena kualitas, bukan yang lain. Kalau ingin masuk, tentunya kualitas tidak boleh kalah, kelebihan publikasi dan distribusi jadi nilai tambah.


2. Alokasi budget distribusi
Sebuah produk baru masuk dengan iklan tv intensif, distribusi bagus, namun seringkali tidak menganggarkan budget cukup untuk jaringan distribusinya. Margin yang ditawarkan tidak cukup menarik bagi grosir/retail. Bagi reseller, ada terlalu banyak item barang yang bisa dijual.


3. Label harga
Label harga yang tertera dalam kemasan bisa jadi hal terburuk yang dilakukan untuk produk baru. Sebuah produk dilabel dengan harga sedikit lebih murah dibanding kompetitor dengan harapan bisa laku lebih banyak. Benarkah bisa begitu? Seringkali label harga justru membuat distribusi terhambat. Yang punya niat beli mungkin banyak, tapi siapa yang mau jual jika rentang marginnya dibatasi? Ada terlalu banyak toko kelontongan kecil, apakah semua bisa dicover sales resmi sehingga jalur distribusinya pendek? Tidak akan mungkin. Dengan label harga, kesempatan jadi sangat luas bagi kompetitor mendisplay produk mereka di outlet2 pelosok tanpa pesaing. Untuk produk baru dengan harga murah, sebaiknya tidak perlu dibandrol, kecuali produk memang sudah lancar dan distribusi mandirinya berjalan maksimal.


4. Konservatifism
Maksudnya? Perdagangan penuh perubahan. Data pasar, intuisi bisnis, banyak memegang peranan. Melihat pasar bagi seorang akademisi dan pekerja di lapangan bisa jadi berbeda. Menjadi konservatif, statis, dan bepijak pada keberhasilan prosedur standar masa lalu bisa jadi bumerang. Pasar bergerak.

FMCG sangat crowded, riuh. Banyak chalanger yang berguguran, menyisakan pendatang - pendatang baru yang tangguh dan produknya menjadi item reguler yang penjualannya terus mengalir sepanjang waktu.
2

Persaingan OS Ponsel

{ }
Akhir - akhir ini saya lagi suka memperhatikan persaingan OS ponsel pintar. Mulai android, iPhone OS, windows phone, symbian, sampai blackberry OS. Kalau dianalisa, siapa yang bakal unggul ya?

Beberapa waktu lalu, blackberry dan iphone menjadi primadona untuk smartphone. Uniknya, dua - duanya adalah produsen ponsel sekaligus OS nya. Jika dikilas balik ke jaman perkembangan komputer masa lalu, apa yang terjadi seperti persaingan komputer sebelum ada ms windows. Dengan tampilnya android, tren nampaknya mulai bergeser. Kembali lagi ke kilas balik, perkembangan ponsel saya pikir tidak akan jauh beda dengan komputer. Hardware jadi makin murah dan makin canggih, sementara software harus sesegera mungkin mengupdate dirinya untuk mengikuti perkembangan yang ada. Ke depan, saya hanya pegang 2 kandidat yang bakal bertarung seru. Windows phone dan Android. Hanya dua itu yang punya kans booming cepat dan terdistribusi optimal tanpa kehilangan momentum karena didukung distribusi dan fabrikasi harware multi vendor. Momentum iPad yang terganjal distribusi dan manufacturing yang kewalahan tidak akan terjadi.

Android dan windows phone, mana yang bakal unggul? Analis luar mengatakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, android akan mendominasi. Itu didasarkan pada infrastruktur yang sangat mendukung seperti online store, jumlah aplikasi pendukung, dan seterusnya. Jika ditilik dari saat ini, pendapat tsb mungkin benar. Motorolla, samsung, LG, dan banyak pabrikan lain tidak punya banyak pilihan untuk bisa berkompetisi melawan iPhone. Android hadir di saat yang tepat dan mendapat sambutan luar biasa.

Bagaimana dengan windows phone? Secara tradisional, orang lebih familiar dengan windows. Secara tradisional pula, hubungan windows phone dan windows pc teramat akrab. Pengguna android bertambah banyak, namun belum bisa diartikan bahwa rasa familiar itu bisa langsung terbentuk. Dengan kemampuan setara, saya pikir windows phone bisa bicara banyak. Dengan budget marketing hingga USD 500 juta, kali ini Microsoft nampaknya benar - benar serius terjun ke bisnis smartphone.
0

Dalam Lelapmu

{ }
saat mentari terusir gelap
dan keheningan memeluk sepi dan terlelap, membuaimu
papa tersenyum memperhatikanmu, anakku
dalam tidur, tanpa melakukan apapun
kau beri papamu kebahagiaan
4

Mencoba Aktif Kembali

{ }
Berbisnis offline ternyata cukup menguras waktu dan tenaga. Dari semula hanya beranggotakan 2 orang (saya dan nyonyah saya) kini sudah punya 3 karyawan. Semula hanya beromset ratusan ribu per hari, sekarang sudah di atas 5 juta. Perkembangan yang lumayan untuk toko kemaren sore. Alhamdulilah. Karena sudah ada yang bantu bantu, sekarang saya berniat aktif ngeblog lagi. Yah paling nggak 1 post per minggu. Demikian share saya kali ini sodara-sodara, semoga dapat segera disambung lagi.
2

Brand dan Sales Freelance

{ , }
Brand dan sales freelance, apa hubungannya? Sedikit info teknis dalam sebuah model distribusi dan pemasaran, sales freelance memberikan andil besar dalam pemerataan produk untuk area - area yang mungkin tidak akan dijamah oleh sales resmi, bahkan yang rapat sekalipun macam indomarco. Area - area yang banyak dijelajah oleh sales freelance umumnya adalah area pedesaan, pedalaman, dimana para penduduknya lebih mudah untuk loyal pada suatu brand karena memang terkondisikan untuk tidak memiliki banyak pilihan. Saat mereka sudah puas terhadap suatu brand, relatif sulit untuk membuat mereka mencoba brand baru, kecuali brand yang biasa mereka beli tidak tersedia di warung dimana mereka biasa berbelanja. Hal sama berlaku untuk warung. Mereka relatif sulit menerima brand baru karena yang mereka beli hanya sebatas apa yang biasa diminta konsumennya. Untuk sebuah warung kecil dengan anggaran terbatas, berbelanja memang benar - benar harus selektif. Untuk produsen yang baru melempar produk baru ke pasaran, ini adalah sebuah tantangan.

Di kota saya, Karanganyar, tercatat ada hampir 10.000 warung/toko/outlet, apapun sebutannya, yang melayani hampir 1 juta penduduk. 10 ribu outlet tersebut disuply dengan beragam cara. Mulai sales dari distributor resmi, wholesaler, hingga sales freelance. Dari sekian banyak cara, saat ini, sales freelance adalah yang paling banyak. Boleh percaya boleh tidak, dalam beberapa tahun terakhir, semenjak perusahaan menerapkan model outsource, banyak veteran yang akhirnya terjun jadi sales (opsi terakhirkah?), dan banyak warung/outlet yang lebih nyaman disuplay mereka daripada harus repot kulakan sendiri.

Dalam mendistribusikan produk, sales freelance (mayoritas motoris), memiliki kriteria produk yang diprioritaskan, diantaranya :
> fast moving
> ringan/ tidak makan tempat
> produk reguler
> memiliki margin tinggi

Produk fast moving/produk habis pakai jadi tiket untuk bisa masuk ke semua warung. Ringan dan tidak makan tempat jadi pertimbangan karena daya angkut yang terbatas. Brand reguler/ sudah terkenal dan umum juga sering dibawa (meski terpaksa) sekedar untuk tdk mengecewakan pelanggan. Dan yang terakhir, margin/profit menjadi filter krusial untuk produk - produk yang dibawa.

Jika dibuat urutan, maka prioritas sales freelance jadi seperti ini :
1. Brand reguler, fast moving, ringan, plus sedang promo (margin tinggi).
2. Brand baru/penantang (kompetitor market leader), fast moving, ringan, sedang promo (margin tinggi).
3. Produk reguler, margin tinggi (seperti stationary/elektrical/semacamnya)
4. Brand fast moving reguler (non promo)
5. Produk reguler yang berat, makan tempat, margin tipis, hampir tidak pernah dibawa.
6. Seperti no 5, plus bukan brand reguler, dipastikan tidak akan didistribusikan.

Dari banyak obrolan dengan para sales freelance, ada beragam info yang cukup menarik, diantaranya :

1. Daripada membawa kopi ABC susu/mocca/brownies, sales freelance lebih suka membawa kopi nescafe tubruk yang dijual dengan harga kopi ABC. Sama - sama kopi susu dengan ampas, nescafe tubruk mampu menggantikan posisi ABC di hanger warung - warung di daerah dan laba yang didapat lebih besar.

2. Meski permintaan terhadap sabun citra cukup tinggi, tapi dengan harga jual yang dipatok 1500 (via iklan, wtf!), sales jarang membawa produk tersebut. Tidak ada sales yang mau disuruh kerja bakti. Dengan harga end user yang sama (1500), mereka lebih memilih membawa sabun Giv, brand reguler yang jelas lebih menguntungkan untuk dibawa (kemasan per karton lebih kecil, margin lebih tinggi).

3. Sales malas membawa brand lama yang terbukti kalah bersaing meski ditawarkan harga promo (yang dimaksud promo di sini adalah reseller promo, bukan end user promo). Sales bukan marketer, mereka sekedar mendistribusikan produk dan mendapat laba dari selisih harga jual dan harga beli, tidak untuk 'memasarkan' suatu brand demi raihan laba yang lebih tinggi. Daripada membawa produk yang sudah pasti lambat, lebih baik gambling dengan produk baru.

Sales freelance dominan di kanal tradisional. Mereka tangguh, berdaya jelajah tinggi, dan bekerja tanpa kenal lelah karena apa yang mereka usahakan adalah apa yang mereka dapat. Tanpa gaji. Dengan makin banyaknya jumlah mereka, strategi penetrasi brand bisa saja berubah, bagi yang tahu. Kanal tradisional adalah jalan bagi brand - brand senior untuk tetap bertahan di tengah gempuran produk - produk baru. Meski di kanal modern sudah tidak terjamah, brand senior masih saja dipajang di warung - warung pedesaan, tempat pilihan amat terbatas, dengan kemungkinan terbeli lebih besar.
5

Mengapa Orang Mau Mengeluarkan Uang?

{ }
Mengapa orang mau mengeluarkan uang? Secara individual, mungkin bisa dipilah - pilah seperti ini :

- Untuk memenuhi kebutuhan
Apa yang dimaksud kebutuhan? Anda mungkin tidak ingin membeli obat, tapi anda harus karena anda butuh itu untuk sembuh. Anda tidak ingin membeli makanan, tapi anda harus jika ingin tetap hidup. Itulah kebutuhan. Mau tidak mau, harus tetap dibeli meski sebenarnya ada yang lebih ingin kita beli. Orang yang masih menggantungkan diri pada orang lain (anak - anak misalnya), baru mengerti tentang keinginan karena orang tuanyalah yang memikirkan kebutuhan. Kalau sudah mandiri (dan sebaiknya diajarkan sejak dini), baru mereka mengerti arti kebutuhan.

- Untuk memenuhi keinginan
Keinginan itu apa sih? Kita butuh makan, kita ingin makan nasi goreng. Kita butuh hiburan, kita ingin nonton konser. Pada dasarnya, keinginan adalah opsi. Setiap kebutuhan selalu dipenuhi dengan beragam opsi dimana bisa kita pilih sesuai keinginan kita (dengan biaya yang berbeda - beda). Di atas kebutuhan ada keinginan, dan kita mungkin bersedia membayarnya sampai batas harga yang tidak membuat keinginan itu hilang dengan sendirinya. Kebutuhan bisa dicukupi, tapi keinginan itu tanpa batas.

- Untuk menghilangkan penasaran
Sebenarnya tidak butuh, tadinya tidak ingin, tapi karena penasaran, akhirnya nyoba makan daging ular juga. Setelah mencoba, keinginan yang sama mungkin tidak pernah terulang, tapi bisa juga justru jadi kebutuhan. Mengambil contoh suatu produk, bisa dibilang, setiap produk baru, dibeli (atau dicoba) karena ingin menghilangkan rasa penasaran. Jika produk berhasil, terjadi pembelian berulang atau (bahkan) menciptakan genre kebutuhan baru. Pemutih atau pewangi pakaian misalnya, sekarang jadi kebutuhan dengan opsi beragam merk. Dari data statistik (maaf lupa sumbernya), tidak lebih dari 20% produk baru bisa survive, selebihnya jadi kenangan.

Dengan kehidupan modern yang semakin kompleks, kebutuhanpun jadi terus bertambah. Tadinya tidak butuh beli ban baru, sekarang jadi butuh karena punya mobil. Tadinya tidak butuh regulator LPG, sekarang jadi butuh karena hampir nggak ada lagi yang menggunakan kompor minyak. Semakin beragam ketergantungan manusia pada suatu alat/hal, makin banyak pula kebutuhan yang harus dicukupi, dan semakin banyak pula dana yang harus dikeluarkan.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya agar orang mau mengeluarkan uang untuk produk/jasa yang kita berikan? Yak,.. lanjut posting mendatang aja deh...^_^
 
poside by budityas |n|e