Showing posts with label Selling Stuff. Show all posts
Showing posts with label Selling Stuff. Show all posts
0

Prinsip Dasar Menjual untuk Wiraniaga Toko

{ , , }

Inti dari bisnis toko adalah menjual. Segala kegiatan lain hanyalah pendukung dalam hal proses menjual. Pada prinsipnya, hanya diperlukan 3 dasar dalam menjual, yaitu :

Jelas
Teliti
Ramah

Dalam menjual diperlukan kejelasan dalam berbagai hal. Mulai dari kejelasan produk, harga, isi/kemasan, dan lain sebagainya. Kejelasan menumbuhkan keyakinan, dan keyakinan menumbuhkan kepercayaan.

Menjual juga membutuhkan ketelitian. Teliti dalam hal kesesuaian produk dengan permintaan pembeli, teliti dalam kalkulasi, dan teliti dalam hal pengemasan. Ketelitian memastikan transaksi berjalan tanpa ada satu pihak yang dirugikan.

Disamping hubungan bisnis, transaksi di toko adalah hubungan antar manusia yang merupakan makhluk sosial. Keramahan dibutuhkan, terutama untuk toko tradisional dimana tatap muka penjual – pembeli berlangsung lebih intens.

Ketiga prinsip dasar tersebut harus berjalan beriringan, jangan sampai terjadi suatu kejelasan yang kasar/tidak ramah, atau justru keramahan yang tidak jelas dan tidak teliti (misal : transaksi sambil bergosip ria)

7

Pembeli Memilih, Penjual Memilih

{ , , , }
Sebagai pembeli, konsumen, kita adalah makhluk yang pemilih. Kita memilih produk yang kita sukai, membeli di toko favorit, makan di warung langganan, dan sebagainya. Sebagai penjual - jika anda pedagang - andapun sebenarnya juga punya hak untuk memilih. Penjual bisa memilih konsumen yang hendak ia layani. Semakin anda tahu tipe konsumen yang ingin anda layani, maka hasilnya akan semakin bagus karena anda akan makin fokus dalam menjual produk. Jangan sampai sebagai penjual, kita terjebak untuk memuaskan semua orang, karena itu adalah hal yang mustahil dilakukan. Hal ini nampak mudah jika yang kita jual adalah produk khusus (produknya sendiri sudah tersegmen), namun akan terasa sukar jika produk yang dijual adalah produk umum. Kelontong atau sembako misalnya.
3

Jenis Sales dan Tugasnya

{ }
Sebenarnya, sales banyak macamnya. Jika secara umum dipilah - pilah, maka paling tidak ada 3 jenis sales utama, yaitu sales distribusi, sales direct, dan sales promo, plus satu tambahan yaitu sales mixed. Nah, berikut ini detilnya :

1. Sales Distribusi
Sales distribusi adalah sales yang tugasnya mendistribusikan produk pada reseller/outlet/toko. Sales seperti ini sifatnya rutin, jadi biasanya mendapat gaji tetap meski pendapatan variabel serta bonus juga ada. Sedikit atau banyaknya penjualan lebih tergantung pada tingkat serapan pasar secara umum, jadi faktor marketing (iklan, promo, dlsb) sangat berpengaruh terhadap kuantitas jual sales. Beberapa keahlian yang harus dimiliki sales jenis ini diantaranya :
- Daya jelajah. Karena tugasnya distribusi, maka daya jelajah sangat penting. Setiap sales mengcover suatu area dan melakukan kunjungan rutin di outlet - outlet yang ada di areanya secara dengan siklus tertentu.
- Mampu menjalin hubungan jangka panjang. Hal ini penting bagi sales distribusi. Setiap langkahnya adalah untuk menjalin hubungan jangka panjang, bukan barang laku lantas menghilang. Untuk mampu menjalin hubungan jangka panjang, maka kejujuran adalah hal terpenting. Sekali berlaku tidak jujur, retailer tidak akan mau lagi mengambil produk dari sales tersebut.
- Tidak mudah jenuh. Setiap kegiatan rutin rentan menimbulkan kejenuhan. Dari hari ke hari, tugas sales distribusi relatif sama. Jika mudah jenuh, ritme kerjanya bisa terganggu dan tentu saja itu akan mengganggu siklus yang pada akhirnya menimbulkan protes retailer - retailer yang rutin mengambil produk dari sales tersebut.

Contoh sales jenis ini : Sales rokok dan kebutuhan harian bermerk.

2. Sales Direct
Sales direct adalah sales yang tugasnya langsung menjual produk pada konsumen. Pendapatannya sangat tergantung pada kemampuan jualnya, jadi biasanya jika ada gaji pokok, nilainya sangat kecil. Porsi pendapatan jauh lebih besar pada pendapatan variabel/komisi bergantung jumlah penjualan. Di sini selling skill berperan besar karena hal itu menentukan mampu atau tidaknya sales melakukan penjualan. Beberapa hal yang perlu dimiliki sales jenis ini diantaranya :
- Impresi. Sales jenis ini butuh kesan pertama yang menggoda, jadi biasanya ia tampil rapi jali dengan kartu nama "marketing eksekutif" atau "sales eksekutif", tidak seperti sales distribusi yang kadang berpakaian saja ala kadarnya. Tipikal sales jenis ini yang sering dikonotasikan dengan term "sales" yang jual-lari hanya demi mengejar komisi.
- Presentasi. Kemampuan presentasi sangat penting. Ia tidak sekedar mendistribusi, tapi juga perlu membangkitkan minat karena tugasnya menjual ke konsumen. Bagaimana ia menawarkan produk dan cara - cara pendekatannya pada calon konsumen sangat menentukan hasil yang ia dapat.
- Koneksi. Biasanya sales jenis ini memasarkan produk bukan berbasis geolokasi, tapi berbasis kanal. Di sini koneksi/relasi sangat penting. Sales yang tidak gaul akan sulit menemukan prospek - prospek baru untuk menjadi target penjualan produknya. Jadi selain menjual, sales jenis ini memang perlu bergaul dan bersosialisasi.

Contoh sales direct : Sales perumahan, mobil, elektronik, kartu kredit, asuransi, dll.

3. Sales Promo
Jika anda pernah mendengar SPG (Sales Promotion Girl), maka sales promo adalah yang seperti itu. Ia menjual, tapi fungsi sebenarnya adalah dalam hal marketing secara keseluruhan. Ia membawa citra produk. Tidak jarang sales jenis ini membagi - bagi marchandise pada pembeli - pembelinya. Sales ini tidak benar - benar untuk mencari profit, tapi justru lebih ke expense. Jika dipandang secara langsung, sales ini adalah pengeluaran bagi perusahaan. Jadi, biasanya dipekerjakan seperlunya saja, tidak reguler. Beberapa hal yang perlu dimiliki sales promo diantaranya :
- Penampilan menarik. Untuk mempresentasikan sebuah brand itu menarik, seorang sales juga dituntut untuk tampil menarik. Selain itu, sales promo itu sendiri sering difungsikan sebagai magnet untuk menciptakan traffic.
- Ramah dan informatif. Ia tidak sekedar menjual, tapi juga memberikan edukasi pasar sekaligus menjawab pertanyaan - pertanyaan konsumen untuk produk yang ia bawakan.
- Mampu membujuk. Ini penting bagi seorang sales promo. Agar konsumen mau membeli produk yang ia bawakan, ia harus mampu membujuk. Untuk perusahaan - perusahaan consumer goods, seorang pelanggan menjadi loyal harus diawali dengan trial/mencoba dulu pada awalnya. Seorang sales promo bertugas menjual terutama dalam rangka trial ini. Jika cocok, konsumen akan rutin membeli produk dari kanal - kanal distribusi yang ada.

4. Sales mixed direct - distribusi
Sales jenis ini fungsinya mendistribusi, tapi targetnya langsung ke konsumen. Keahlian yang dibutuhkan relatif sama dengan sales distribusi. Biasanya produk - produk yang dijual bukan produk branded. Contohnya saja barang - barang komoditas seperti sayur mayur, tahu, daging, dan kebutuhan - kebutuhan harian lainnya. Sales seperti ini banyak kita temui, dan biasanya adalah tipe sales mandiri.

Seperti biasa, tidak ada referensi di sini. Sekedar berbagi info secara personal aja :). Lagipula tema selling tidak terlalu menarik di Internet meski pada kenyataannya penting dalam keseharian.
0

Selling Series : Nyali

{ }
Nyali atau keberanian adalah hal pertama yang harus tertanam untuk mampu menjual. Berani ini bisa berarti banyak hal, termasuk diantaranya berani menawarkan, berani ditolak, berani menemui orang, berani melakukan presentasi, dan masih banyak lagi. Terkait memulai dan membesarkan usaha, maka yang paling penting dimiliki pertama kali adalah keberanian atau nyali. Nah, susahnya mengenai nyali ini adalah : nyali, seperti halnya selling, bukan teori tapi praktek. Harus dilatih dan terbiasa karena pengalaman.


Keberanian tidak melulu melawan rasa takut, tapi juga rasa yang lain. Malu misalnya. Jika Kolonel Sander malu karena ditolak orang berkali - kali, kita tidak akan melihat KFC. Dalam kaitannya dengan menjual, rasa takut pada 'malu' ini paling sering hinggap, jadi memang perlu suatu pengkondisian untuk membuat orang tidak takut lagi dengan rasa malu. Pengkondisian ini bisa bermacam - macam, salah satunya ya pengkondisian oleh sikon alami. Miskin dan benar - benar kepepet untuk hidup misalnya. Situasi tidak ada jalan lain ini akan membuat orang mau tidak mau harus berani kalau ingin hidup. Banyak anak keluarga miskin yang akhirnya sukses karena memang terkondisi untuk menjadi berani menjalani hidup. Pengkondisian yang lain adalah, anda masuk divisi sales. Divisi sales adalah arena survival alami bagi tiap individu untuk membangun mental keberanian menjual. Tidak ada yang lebih baik dari itu. Jika beraninya sudah dapat, maka keahlian yang lain lebih mudah dipelajari dan dipraktekkan.

Ada stereotip bahwa orang berpendidikan tinggi justru sulit membangun bisnis, bahkan ada yang berani menulis bahwa kalau ingin menjadi pengusaha, jangan sekolah. Menurut saya statement tersebut tidak pada tempatnya. Alasan terbesar bagi mereka yang berpendidikan tinggi sulit berbisnis adalah karena kebanyakan dari mereka membangun barier yang lebih tinggi di 'rasa malu', hingga mereka tidak mampu melompatinya. Ya, gengsi atau harga diri adalah hal yang paling sulit diterobos oleh mereka yang berpendidikan tinggi untuk menjadi seorang pengusaha. Rasa enggan dan malu dalam 'menjual' menjadi penyebabnya.

Dalam membangun bisnis, cerdas saja tidak cukup. Nyali lebih dibutuhkan. Orang bodoh yang berani terus melangkah menghasilkan lebih banyak dari pada orang cerdas berpendidikan tinggi yang ragu - ragu. So intinya, be brave, People, karena kata - kata dan teori saja tidak cukup.
2

Sarden : Tantangan Pemasaran

{ }
Ada sebuah tantangan begini :
Anda mendapat 5000 kaleng sarden untuk dipasarkan di daerah anda. Produk tersebut masih baru, jadi belum dikenal. Secara legal produk sudah terdaftar, jadi siap dipasarkan. Pihak produsen memberi kemudahan dengan pembayaran tempo, jadi anda hanya bertugas memasarkan saja. Biaya pemasaran tentunya ada di tangan anda sepenuhnya. Produk memiliki margin cukup, dalam arti harga produk terhitung murah dan marginnya lebih dari cukup untuk operasional. Pertanyaannya, apa langkah - langkah anda agar 5000 kaleng tadi segera berubah menjadi uang dalam tempo sesingkat - singkatnya?


Seperti kenyataan bisnis yang ada, tantangan anda ada di marketing strategi, skema distribusi, dan managerial. Pengetahuan tentang kondisi lapangan sangat dibutuhkan.

Beranikah anda menjawab tantangan tersebut? Jika ya, apa langkah langkah anda?
0

Menjual : Ekstraksi Beragam Keahlian

{ }
Untuk beberapa post ke depan, poside akan membahas lebih lanjut tentang menjual. Informasi yang diketengahkan berasal dari pengalaman pribadi, rekan/praktisi, dan tentu saja: internet. Jika anda tertarik, mari kita bahas bersama - sama.


Keahlian menjual merupakan ekstraksi beberapa keahlian, diantaranya:
1. Membangun kredibilitas dan pengenalan karakter
2. Presentasi
3. Negosiasi
4. Deal/closing
dimana keahlian - keahlian tersebut diaplikasikan dalam durasi terbatas.

Menjual bisa berarti banyak hal, seperti menjual ide pada atasan, menjual strategi marketing pada perusahaan, menggoalkan kerjasama, dan masih banyak lagi dimana tidak diartikan secara sempit hanya menjual barang atau jasa. Lebih dari itu, kemanpuan menjual adalah skill dasar bagi individu sebagai sebuah sumber daya agar perusahaan dapat tumbuh dan berkembang.

Dalam banyak kasus, kita tidak punya keleluasaan waktu untuk memaparkan apa yang ingin kita jual. Entah karena yang ingin kita presentasi terlalu sibuk atau target kita sendiri yang cukup banyak bisa jadi penyebabnya. Dalam menjual, ada 4 hal tadi yang perlu dilakukan. Jadi, pintar - pintarlah mengekstraknya agar keempatnya tetap terlaksana dengan waktu yang terbatas. Secara garis besar, berikut ini esensi 4 hal di atas:
1. Kredibilitas dan pengenalan karakter.
Berkenalan dan berbincang sebagai pembuka adalah saat yang sangat penting. Di situ, kredibilitas anda akan dinilai. Entah melalui seragam, ID card, hingga cara anda berbicara. Di saat yang sama andapun menilai dan mengengali karakter prospek anda. Membangun kredibilitas dan mengenali karakter sulit dipisahkan karena setiap karakter menilai dengan kacamatanya sendiri. Jadi, bisa dibilang bahwa membangun kredibilitas dan mengenali karakter prospek harus dilakukan secara simultan.

2. Presentasi.
Saat semua terbuka, maka itu saat anda mempresentasikan dagangan anda. Dari pengamatan karakter di step sebelumnya anda bisa tahu bagaimana seharusnya anda mempresentasikan dagangan anda tersebut. Beda karakter beda cara, dan anda akan melakukan hal ini dengan lebih baik seiring meningkatnya jam terbang.

3. Negosiasi.
Jika presentasi berhasil dan tumbuh minat, maka langkah selanjutnya adalah negosiasi. Kalau versi lapak di pasar, negosiasi adalah tawar menawar.

4. Deal/closing.
Ini penutup negosiasi. Inti dari closing sebenarnya adalah menumbuhkan keyakinan bahwa keputusan yang telah disepakati adalah tepat. Di saat yang sama juga membuka kesempatan di waktu - waktu mendatang untuk menjual pada orang yang sama.

Jika anda ingin terjun sebagai wirausahawan, setiap langkah adalah menjual, baik menjual keahlian, produk, atau kerjasama bisnis. Jadi, bagi wirausahawan, 4 hal itu harus terus menerus dilatih agar mengalir secara alami dan mendarah daging.

Note: jam terbang sayapun belum tinggi, but i'm on the way through. Learning...by doing. Jika anda ada sample case dalam menjual, please share. Pasti jadi bahasan yang menarik :)
1

Telkomsel dan iPhone

{ , , }
Saat ini di detikinet yang lagi meriah adalah berita iphone yang dijual Telkomsel. Dengan membaca komentar yang ada, maka sebagian besar menilai harga iphone terlalu mahal.


Nampaknya upaya pemasaran akan menemui jalan buntu. Netter menanggapinya dengan negatif. Itu sekedar warning yang bisa dicatat.

Apakah dengan harga sedemikian mahal apakah lantas produk tersebut tidak laku? Belum tentu sebetulnya. Tergantung bagaimana divisi salesnya bekerja. Jika divisi marketing gagal menciptakan animo, belum tentu divisi salesnya gagal menjual.

Telkomsel bisa saja memaksimalkan salesnya untuk menjemput bola. Sebagai perusahaan besar dan memiliki banyak pelanggan premium, bukan tidak mungkin ia memanfaatkan data yang ada untuk melakukan aktif selling dengan kunjungan langsung ke customer potensial. Kalau targetnya adalah subscriber baru yang diharapkan mau berlangganan kartu halo, mungkin list data 'yang menolak' kartu halo bisa dimanfaatkan, itu juga kalau tsel punya, karena banyak juga sales yang tidak disiplin mendata yang ginian (prinsipnya ga laku ya udah, tinggal aja...) padahal masih bisa ditindaklanjuti dengan 'senjata' baru. Dalam hal ini iphone.

Sukses penjualan tidak melulu tergantung marketing. Ada saat tertentu dimana divisi sales harus berperan lebih aktif. Nggak cuma terima matang aja, tapi juga berusaha menumbuhkan minat on the fly hingga akhirnya seseorang melakukan pembelian. Intinya adalah; it's not impossible untuk menjual iphone dengan harga kompeni,..^_^. Biasalah, telkomsel gitu loh..., mana ada yang murah,hehe...

Note: Misalkan kepepet harus ada report penjualan iphone dalam jumlah tertentu, paling - paling dealer kna getahnya juga. Kali aja ikut kena wajul alias wajib jual, klo ga, jatah mkios ilang, ga jadi dealer lagi...,hehe. Nggak isa jual baek2 ya maksa dong. Telkomsel kan powerful.
16

Bisnis Baru : Fokus ke Selling, Bukan Marketing

{ , }
Post ini merupakan salah satu post terpenting bagi saya, entah bagaimana menurut anda. Masih merupakan rangkaian dari post sebelumnya, yang dibahas adalah tentang selling dan marketing. Dua hal yang sangat erat kaitannya dengan dunia usaha.

Kalau boleh jujur berpendapat, aktivitas marketing itu sebenarnya dalah urusan perusahaan besar. Hanya karena perusahaan besar dengan dana besar melaksanakan aktivitas marketing dimana salah satunya adalah publikasi, maka aktivitas marketing itu tersosialisasi dan menjadi bahasan lumrah untuk siapa saja, bahkan bagi perusahaan kecil ataupun entrepreneur baru sekalipun. Sedang selling, sales, dan teknis penjualan menjadi terpinggirkan, bahkan terkonotasikan. Di mana - mana yang dibahas adalah marketing hingga orang lupa tentang apa dan bagaimana aktivitas selling itu sebenarnya. Beberapa mendefinisikannya sebagai elemen marketing, tapi bagi saya sendiri keduanya sangat berbeda.


Kembali ke statement awal saya, marketing sebenarnya bukan prioritas untuk perusahaan kecil yang sedang/baru tumbuh. Jika kita menilik bagaimana perusahaan - perusahaan besar itu menjadi besar, mungkin andapun akan akan berpendapat sama, bahwa mereka tidak membesarkan perusahaan tersebut dengan aktivitas marketing, tapi lebih ke aktivitas 'menjual' atau selling. Ini berbeda. Seperti pernah saya ibaratkan di post sebelumnya tentang memancing ikan, maka untuk mulai mendapat ikan lebih banyak, yang dilakukan adalah lebih dulu memperbagus umpan, kail, dan cara kita memancing, bukan bergelut memikirkan bagaimana cara kita membuat ikan menjadi lapar.

Perusahaan kecil belum sepantasnya fokus dalam membentuk image, awareness, dan tetek bengeknya jika dari sisi produk maupun teknis penjualan kemampuannya belum teruji dari sisi hasil. Membentuk brand image atau awareness itu expense, dan membangunnya tanpa ditunjang progress dari sisi produk maupun teknis penjualan maka bisa berujung pada cashflow negatif. Jika bukan masalah uang, anda akan merasakan lelah lebih besar dibanding hasil yang anda peroleh. Ini mengenai paradigma. Dengan berfikir marketing, maka think flownya adalah: expense dulu, revenue menyusul kemudian sebagai hasil. Untuk perusahaan besar itu bagus karena memang kelebihannya di 'dana'. Jika dana yang tersedia besar, berfikir marketing tidak salah. Kalau dana tidak habis untuk itu lha untuk apa lagi? ^_^

Kalau boleh saya katakan, jika aktivitas marketing itu top down, maka aktivitas penjualan itu bottom up. Aktivitas marketing itu berangkat dari strategi ke arah taktis, baru ke teknis di lapangan. Ia dirancang oleh head offices, diterjemahkan by area oleh branch office, dan dilakukan secara teknis oleh ujung tombak di lapangan. Sifatnya benar - benar top down, baik planning maupun eksekusi.

Aktivitas selling atau menjual lain lagi. Ia berangkat dari teknis individual, terangkum dalam bentuk taktik, dan tergeneralisir menjadi sebuah strategi. Sebuah perusahaan kecil menjadi besar biasanya berangkat dengan cara seperti ini. Untuk lebih mudahnya, ada cerita seperti ini :

Mr X adalah pedagang pasar dan ia menjual ikan. Seiring waktu, ia tahu bagaimana menjual dengan lebih baik sehingga laku lebih banyak. Taktik cara berjualannya makin terkumpul seiring waktu, dan ia bisa melebarkan sayap ke pasar - pasar lain dan mengajarkan taktiknya tersebut kepada para pegawainya. Ia telah meningkat menjadi seorang juragan ikan. Seiring waktu pula, taktiknya bukan hanya dalam 'menjual' ikan, tapi juga menjual kata - kata dan kepercayaan. Dengan reputasi itu, ia bisa membuat lebih bayak orang berinvestasi di perikanan dengan hasil kolam ikan ada di mana - mana. Ia bisa meningkatkan suply, menjaganya, dan iapun bisa melebarkan sayap lebih luas lagi. Penjualan antar pulau atau antar negara. Di titik ini seorang pedagang pasar mulai membukukan kaidah bisnis ikan dalam sebuah strategi yang mantap, solid, dan teruji. Ini bukan awareness, image, atau apalah terkait marketing. Ini sebuah aktivitas selling dalam membangun imperium bisnis dan konglomerasi. Om liem yang bermodal bantal atau Sampoerna yang mulai membuat rokok secara rumahan berangkat dengan cara seperti ini dalam membangun imperium bisnisnya. Setelah perusahaan menjadi besar, baru anak - anak lulusan kuliahan dan para marketer menjalankan aktivitas marketing untuk menjaga kelangsungan bisnis besar tersebut.

Akhir - akhir ini, lebih banyak orang yang fokus dalam hal marketing, bahkan untuk perusahaan yang baru mulai sekalipun. Jujur saja, anda merasa lebih keren kan kalau ngomongin marketing jika dibanding selling? ^_^. Seperti kita tahu, membangun imperium besar tidak bisa di "short cut" dengan mempelajari dan membahas hal yang lebih layak dibahas saat 'sudah menjadi besar'. Pelajaran untuk kita yang ingin membangun perusahaan dari kecil tidak bisa disamakan dengan pelajaran dan bahasan seorang Michael Sampoerna yang beruntung mendapatkan warisan perusahaan yang sudah jadi.

Mengawali usaha, jika anda ingin bermitra dengan seseorang untuk membangun perusahaan dari bawah, mungkin lebih baik anda bermitra dengan orang yang ahli menjual sapu lidi dalam jumlah banyak di pasar daripada dengan seorang marketer yang ahli menciptakan brand image atau awareness. Dengan penjual sapu lidi yang ahli, paling tidak anda akan menapak satu langkah ke depan dari sisi penjualan dan penghasilan untuk membesarkan perusahaan anda. Dengan ahli marketing, kemungkinan yang terjadi adalah pengeluaran dan image bagus, tapi dengan resiko anda kehabisan cash dan terhenti dalam melanjutkan langkah ke depan. Kebanyakan startup gagal karena "they do marketing first, selling later", sedang budget mereka sangat terbatas. Sayangnya, yang seperti ini sangat banyak dan justru hadir dari kalangan terdidik yang melek marketing tapi minim dalam keahlian menjual. Semangat 45 di marketing, tapi alergi menjual. Jika dikasih produk dan diminta untuk menjual, kemungkinan besar mereka akan gagal. Itu kisah masa kini yang mungkin akan terulang dan terulang lagi. Wajar saja jika orang - orang yang mampu membangun imperium bisnis yang besar justru tumbuh dari kalangan orang biasa, bukan kaum terdidik atau ahli - ahli marketing yang jempolan.

Mari difikirkan ini lebih mendalam jika anda seorang bisnis owner yang baru memulai usaha, karena paradigma keduanya sangat berbeda. Kebanyakan marketer di berbagai perusahaan besar tidak ahli menjual, tapi mereka ahli berkreasi dengan beragam cara, dengan aneka teknik dan beragam istilah yang intinya sama saja. Mengeluarkan uang perusahaan. Expense perusahaan adalah nadi hidupnya. Segala yang berkaitan dengan marketing pada dasarnya dibuat dan 'sold to' bisnis owner, bukan customer. Marketing it self IS a product. Jadi hati - hatilah. Apa yang anda beli belum tentu berguna untuk anda.
 
poside by budityas |n|e