1

3 Kelas 3 Harga 3 Strategi

{ , }
Melayani kelas bawah, kelas menengah, dan kelas atas, semua bisa menguntungkan tergantung strateginya. Yang pertama perlu diketahui adalah data dan fakta yang ada di lapangan. Umumnya, tingkat ekonomi masyarakat bentuknya adalah piramida. Makin kaya makin sedikit jumlahnya.

Untuk kelas bawah, karena jumlahnya banyak, umumnya untuk mendapatkan hasil maksimal, maka produk dibuat seterjangkau mungkin untuk bisa terjual sebanyak - banyaknya. Margin tipis, dengan faktor kali lebih diutamakan. Strategi fokus pada efisiensi produksi dan bahan baku, juga minimalisasi biaya distribusi. Bahkan untuk produk - produk tertentu, distribusi bisa berjalan alami tanpa perlu sistem distribusi yang terencana baik.

Untuk kelas menengah, jumlahnya lebih sedikit. Selain efisiensi produksi, produsen juga sangat perlu memperhatikan margin jual dan persaingan antar produk. Variasi produk juga bisa membantu membentuk kapling - kapling market tersendiri untuk tetap kompetitif dan terjangkau. Sebaran kelas menengah relatif sama dengan kelas bawah, terpencar - pencar,hanya saja untuk distribusi perlu ada strategi khusus. Produk - produk kelas menengah lebih sulit untuk tersebar luas secara alami.

Kelas atas jumlahnya paling sedikit, dan umumnya tersebar secara terbatas. Biasanya di kota. Produk kelas atas tidak harus efisien dalam produksinya, bahkan handmade bisa jadi nilai tambah tersendiri. Image dan keunikan menjadi modal untuk mengatrol harga jual. Sama - sama kopi plus gula, namanya bisa saja berbeda - beda demi membentuk keunikan agar tidak mudah diperbandingkan. Strategi pricingnyapun unik, karena produk tidak didesain untuk massal. Fokusnya bukan menjual sebanyak - banyaknya, tapi membuat margin setinggi - tingginya. Bahkan untuk produk - produk tertentu dibuat dalam jumlah terbatas.

Anda mau terjun jadi pengusaha? Mau masuk di kelas yang mana? Semua kelas ada juaranya. Di tiap kelas juga ada yang terpukul KO di ronde pertama.
0

Distribusi Produk Snack

{ }
Dilihat dari kecepatan jual, barang consumer goods yang tinggi perputarannya adalah snack dan deterjen. Untuk snack, produk seharga 500an paling cepat penjualannya. Ada beberapa produsen yang bersaing ketat di segmen ini. Untuk kelas nasional, yang terkenal diantaranya : Mayora, kraft, garuda food, dan OT.

OT, dengan distributor Artha boga, termasuk produsen yang paling banyak meluncurkan varian produk. Mulai tango wafer, fullo, oops wafer keju, dan masih banyak lagi. Sistem distribusi artha boga secara teori mungkin termasuk yang terbaik, tapi di lapangan, kondisinya masuk kategori paling kacau balau. Price list produknya sangat sulit dijadikan rujukan. Fluktuatif karena beragam faktor. Mulai sistem rekruitmen sales, metode penggajian, tuntutan performance, dan masih banyak lagi hal lain yang secara langsung berpengaruh pada harga dan ketersediaan produk di pasaran.

Garuda food bisa dibilang pesaing terdekat OT untuk produk snack. Chocolatos, Gery salut, dan produk - produk lain relatif mirip dengan produk buatan OT. Dari sisi banderol harga juga tidak jauh beda. Produk garuda food didistribusikan dengan cukup baik. Sub distributornya ada banyak dan mengcover area tertentu yang tidak terlalu luas. Satu kabupaten bisa ada beberapa sub distributor. Dari sisi harga, relatif lebih stabil dibanding produk - produk OT.

Kraft dengan produk - produknya seperti oreo dan biskuat, masuk kategori snack mahal karena paling pelit membagi keuntungan untuk reseller. Distribusinya relatif rapi, tapi dengan setting harga yang tinggi, tidak banyak 3rd party yang secara sukarela mendistribusikan produk - produknya. Hampir tidak ada ruang gerak untuk sales - sales freelance. Wajar jika produk hanya tersedia di tempat - tempat tertentu saja.

Distribusi mayora termasuk distribusi yang paling rapi. Bahkan sales - sales freelance sampai tahu kapan sebuah toko grosir bakal dapat kiriman produk mayora. Slay o'lay dan roma better bisa dibilang produk 500an paling laris saat ini. Sayangnya, tidak ada tempo. Semua hard cash. Entah aturan itu dari principal atau distributor, yang jelas, distribusinya sangat tertolong oleh produk itu sendiri.

Nah, dari sekian banyak produsen, produk, dan sistem distribusi, menurut anda manakah yang paling baik? Agak aneh memang, tapi di tempat saya, justru produk OT yang terjual paling banyak. Mengapa? begini alasannya :

Karena fluktuatif, saat dapat harga murah, grosir dan sales freelance cenderung rela membeli dalam jumlah lebih banyak, kadang sampai over. Ini sering menyebabkan mereka enggan membeli produk kompetitor, bahkan yang lebih menarik sekalipun, sekedar agar produk yang mereka stok sebelumnya dalam jumlah banyak bisa keluar. Ini terjadi berulang dan kontinyu, membuat produk kompetitor yang sebenarnya lebih punya potensi terhambat peredarannya.

Bisnis retail memang sedikit mengalami pergeseran. Di tempat saya, terdata ada hampir 10 ribu pengecer yang tersebar di penjuru kabupaten. Mengcover semua secara mandiri jelas tidak mungkin. Distribusi dengan pricing yang memahami psikologi grosir dan freelancer bisa jadi alternatif baru. Sales resmi bukan lagi jadi sapi perah omset, tapi jadi pembawa informasi retail price dengan target utama jumlah kunjungan. Sementara barang mengalir secara natural melalui grosir dan sales freelance, sales yang sebenar - benarnya yang bekerja sungguh - sungguh tanpa tekanan dari siapapun.
2

Segar Dingin : Antara Fungsi dan Harga

{ }
Di gudang saya ada produk buatan wings bernama Segar dingin yang fungsinya untuk panas dalam. Dari sisi kandungan, rasa, dan harga, produk ini sebenarnya sangat menarik. Rasa jeruk nipis, extrak mint, madu, dan vitamin C 1000mg dan dijual seharga 400 rupiah. Murah sekali. Mengapa masih saja lambat penjualannya?

Beberapa konsumen yang saya minta pendapatnya mengatakan kalau dari sisi fungsi, segar dingin kalah manjur dibanding pesaingnya. Adem sari. Padahal Adem sari harganya dua kali lipat lebih mahal, tapi laku.

Fungsi, mungkin kuncinya di situ. Untuk produk yang berkaitan dengan pengobatan, khasiat adalah harga mati. Orang tidak akan minum sesuatu yang tidak akan membuatnya sembuh meski dikasih gratis.

Sebenarnya tinggal ganti sachet, ganti nama, ganti image, dengan kandungan yang sama, segar dingin bisa jadi produk laris. Kalau masih produk yang sama, mau didistribusikan dengan cara gimana juga, salesnya dipresure sampe berak darah juga hasilnya tetap nggak maksimal.
0

Ngelantur Tentang Prospek Bisnis

{ , }
Saya harus masuk bisnis apa yang membuat saya cepat kaya dan bertahan dalam waktu lama? Pandangan seorang milyarder yang ingin tetap eksis dalam jajaran milyarder akan berbeda dengan pandangan orang biasa yang ingin tinggal landas dari titik nol.

Orang - orang kaya kebanyakan lari ke sektor - sektor yang tumbuh secara rigid. Contohnya saja sektor agro, pertambangan, dan energi. Sawit, dengan hasil minyaknya sangat dibutuhkan aneka industri, baik untuk dimanfaatkan menjadi sabun, sampho, atau menjadi sumber energi alternatif. Biodiesel misalnya. Pertambangan dan energi juga sama. Keduanya sangat penting sebagai penunjang industri lain. Mukesh Ambani, seorang triliuner India diprediksi menjadi orang terkaya dalam beberapa tahun mendatang. Dia bergerak di bidang petrochemical dan energi.

Hingga saat ini, prospek sektor telekomunikasi masih relatif tinggi, hanya saja telekomunikasi hampir mndekati steady state, dalam arti kata, semua sudah berjalan dalam pos - posnya untuk kemudian saling bersaing untuk menjadi yang paling ekonomis. Ponsel canggih makin murah, tarif komunikasi makin murah, sementara biaya lain (besi hasil tambang untuk bikin tower, minyak buat wira - wiri operasional) meningkat untuk memperkaya pemilik lini bisnis lain (disebut di paragraf atas). Dalam arti kata, bisnis telekomunikasi tetap berjalan lancar, tapi tidak semenarik sektor agro atau tambang.

Untuk saya (dan mungkin banyak netters lain yang melihat ke atas dengan air liur bercucuran) yang ingin tinggal landas dari titik nol, perlu melihat prospek dengan cara yang berbeda. Prospek bisa dibagi 2. Pertama prospek dalam perspektif orang yang ambisius, dan yang kedua adalah prospek yang dilihat oleh orang yang realistis.

Prospek Ambisius
Bagi orang berimpian tinggi, menggapai bintang adalah tujuannya. Itu tidak salah, karena Bill gatespun ambisius dan berhasil. Hanya saja, faktor resiko juga perlu dipertimbangkan, salah satunya adalah resiko waktu. Waktu yang terbuang tidak bisa diputar balik. Prospek - prospek ambisius diantaranya :

1. Bisnis IT dan Internet
Bisnis ini beragam dan biasanya diterjuni dengan semangat menggebu - gebu. Secara financial, modal yang dibutuhkan dari nol hingga milyaran. Modal lain yang perlu ada adalah waktu, dan itu seringkali tidak dihitung (kecuali saat gagal). Bisnis ini tetap berprospek karena melibatkan uang yang tidak kecil, hanya saja faktor resiko dan persaingan jadi sangat besar. Mahasiswa mana sih yang tidak penasaran dengan segala hal berbau komputer dan internet?

2. Bisnis Terkait Pemasaran
Tergabung diantaranya adalah bisnis cetak, EO, dan entertaint. Makin banyak persaingan bisnis, makin banyak baliho/bilboard terpasang, dan flyer tersebar di mana - mana. Bisnis cetak, desain, dan sejenisnya berpesta pora. Event brand A, B, dst, banyak EO bermunculan dan bersaing.  Entertaint, seperti karaoke, live music cafe, juga bisa jadi ladang uang yang menciptakan jutawan - jutawan baru. Bisnis - bisnis ini nampak menyenangkan, bermargin tinggi, namun faktor resiko juga tinggi, terutama dalam lika - likunya.

3. Bisnis Produk/jasa baru
Bisa disebut sebagai bisnis inovasi dan sifatnya spekulatif. Bisnis parfum helm, pengaman LPG, sewa kompor gas hajatan, bisa disebut bisnis inofatif, dan punya rentang waktu cukup untuk mengeruk keuntungan sebelum akhirnya ditiru.

Mungkin masih banyak lagi contoh lainnya untuk prospek ambisius. Sekarang berlanjut ke prospek kedua, yaitu prospek yang realistis. Disebut prospek realistis karena tujuannya tidak terlalu muluk, dan hanya bersandar pada apa yang ada dan terlihat di lingkungan sekitarnya saja. Beberapa contoh diantaranya :

1. Bisnis Grosir Umum
Pertumbuhan perumahan cukup pesat, toko2 kecil tumbuh bak jamur di musim hujan. Darimana mereka mendapat barang dagangan? Kebanyakan dari toko grosir. Saat ini, kebanyakan toko grosir masih dioperasikan oleh engkoh2. Regenerasinya sedikit terhambat. Bagaimana tidak? Impian anak - anak muda jaman sekarang kalau tidak mendirikan warnet, toko komputer, netpreneur, programmer, atau malah jadi hacker (halah...^_^), dan pada kenyataannya jauh lebih banyak lagi yang jadi pegawai (atau pengangguran). Bersaing dengan engkoh2 seharusnya bukan perkara sulit untuk anak muda yang lebih enerjik dan terdidik.

2. Bisnis Servis alat rumah tangga
Membanjirnya produk Cina murah non garansi bisa jadi berkah tersendiri. Pembagian kompor gas dengan kualitas "parah" dari pemerintah juga jadi berkah tersendiri bagi mereka yang bisa memanfaatkannya. Ribuan kompor di lingkungan anda bakal rusak dalam tempo 6 bulan sejak digunakan. Tidakkah terlihat prospek yang menggiurkan? Tukang servis lampu saja sekarang ada lho, dan mereka tidak kelaparan.

3. Bisnis Delivery
Layanan pesan antar produk apapun. Bukankah terdengar menarik? Banyak orang yang terlalu lelah bekerja, terlalu malas keluar rumah untuk ini itu. Anda bisa melist beragam kebutuhan harian, beragam menu rumah makan favorit, dan menawarkan layanan antar ke kompleks2 perumahan sekitar anda. Tidak perlu punya toko atau resto. Cukup listing produk, ambil margin cukup, plus bea antar. Saat ini yang saya tahu baru untuk tabung gas dan galon aqua. Bagaimana jika di pos kamling perumahan2 sekitar anda coba anda tempel info "layan antar beragam produk harian, list produk bisa dilihat di www.pesanantarmurah.com". Kalau ternyata ada respon, bisa dikembangkan. Jikapun tidak, paling rugi fotocopy beberapa lembar kertas, ya kan? Mencoba tidak ada salahnya, kali aja bisa berkembang jadi tim suplier kebutuhan harian seluruh penghuni perumahan.

Yah..., yang namanya prospek ada di mana - mana. Ada yang realistis, ada yang ambisius, ada pula yang tidak masuk akal. Yang penting mau usaha. Kalau nggak diusahakan, ya ga ketahuan ujungnya. 
 
poside by budityas |n|e