3

Back to basic : Informasi

{ }
Saya bisa bosan dengan segala hal yang disajikan oleh yang namanya internet. Pas seneng nulis, pinginnya ngeblog n blogwalking melulu. Pas awal - awal langganan speedy, dapat koneksi cepet, tiap hari kerjaannya download film, software, ebook, macem - macem sampe hardisk full n perlu beli hardisk lagi. Tapi semua ternyata ada bosannya juga.

Dalam kebosanan itu, tetap ada satu hal yang membuat saya perlu bolak balik buka halaman web lagi. Informasi. Dalam kejenuhanpun, saya tetap perlu mengakses internet untuk mendapatkan informasi.

Yah, semua yang menyenangkan di internet ujungnya adalah bosan. Tapi tidak dengan informasi. Mencari sesuatu di internet bisa jadi tidak menyenangkan (info sampah dimana2 euy..), tapi hanya itu satu - satunya hal di internet dimana kita masih mungkin menemukan ujung yang melegakan, saat info yang kita cari akhirnya kita temukan.

So guys, jika ada waktu, saat masih semangat - semangatnya mengakses internet, share sesuatu yang original dan informatif. Suatu saat, entah siapa, entah kapan dan dimana, pasti membaca apa yang kamu tulis dan mendapat manfaatnya. Kalau traffic ga dapet, adsense juga pahit, paling nggak Yang Kuasa ngasih pahala, ya toh? hehe...
2

Jangan Bertransaksi dengan Koruptor

{ , }
Membaca berita tentang liburan Gayus di Nusa Dua untuk nonton petenis – petenis Rusia yang cantik dengan menggunakan uang korupsi, perasaan saya jadi sangat muak dan jijik dengan orang – orang yang duduk di jajaran atas pemerintahan sana. Mungkin ini adalah penyakit psikologis baru. Rasa mual dan ingin muntah saat melihat pejabat negara, seperti saat kita mencium bau telur asin busuk saat kita berniat ingin menyantapnya. Tidak ada rasa benci, sekedar rasa mual yang susah ditahan. Namaya juga penyakit.

Negara ini mengalami masalah berat dalam distribusi kesejahteraan. Rejeki yang mengalir, uang yang tersebar, seringkali melalui presedur yang nyata – nyata haram jika dipandang dari sudut pandang agama, dan kotor secara moralita. Uang yang dibelanjakan Gayus, uang yang dibelanjakan Kompol Iwan, entah untuk membeli sate atau yang lain, telah memutar suatu roda ekonomi yang saling berkesinambungan, dan jika ditilik, perputaran itu ternyata awalnya digerakkan uang kotor. Jika rejeki dari hasil seperti itu perputarannya dibuat garis hitam di Google Earth, maka peta Indonesia akan nampak hitam pekat, tanpa warna putih sama sekali.

Ekonomi Indonesia menguat, GDP meningkat, itu tidak saya sangsikan. Tapi yang kuat itu siapa saja, diperoleh dengan cara apa, itu yang saya pertanyakan. Andai saja orang – orang Indonesia dibekali alat khusus yang mempu membedakan uang haram dan uang halal, mungkin cara – cara haram mencari uang bisa hilang. Sayangnya, saat ini hanya ada detektor uang palsu, tidak ada detektor uang haram. Dan lebih disayangkan lagi, meski jelas – jelas seseorang mendapatkan rejekinya secara haram, siapapun masih mau menerima uangnya. Bayangkan, gimana kalau koruptor2 macam Gayus uangnya tidak diterima siapapun. Pasti asik tuh. Mungkin perlu ada gerakan macam itu. Jangan bertransaksi dengan koruptor, jangan menerima uang dari koruptor. Kucilkan siapapun yang sudi bertransaksi jual beli dengan koruptor.

Jika melawan korupsi dari atas susah, mulai dari bawah saja, dan harus tegas dan berani. Wong menggalang dukungan untuk kasus Prita saja bisa, masa yang ini tidak bisa?
1

Smartphone dari Beragam Sudut Pandang

{ }

Hasil nemu...
6

Teka - Teki Albert Einstein

{ , }
Konon, 98% penduduk dunia tidak mampu memecahkan nya. Apakah anda termasuk yang 2%? Teka-teki ini murni logika.

- Ada 5 buah rumah yang masing-masing memiliki warna berbeda.
- Setiap rumah dihuni satu orang pria dengan kebangsaaan yang berbeda-beda.
- Setiap penghuni rumah menyukai jenis minuman tertentu.
- Setiap penghuni rumah merokok satu merk rokok tertentu.
- Setiap penghuni rumah memelihara satu jenis hewan tertentu.

Tak satupun dari kelima orang itu yang minum minuman yang sama, merokok satu merk rokok yang sama, dan memelihara hewan yang sama antara penghuni yang satu dengan penghuni yang lain.

Petunjuk:

- Orang Inggris tinggal di dalam rumah berwarna merah
- Orang Swedia memelihara anjing
- Orang Denmark senang minum teh
- Rumah warna hijau tepat disebelah kiri rumah warna putih.
- Penghuni rumah berwarna hijau senang minum kopi
- Orang yang merokok PallMall memelihara burung
- Orang Jerman merokok Rothmans.
- Penghuni rumah yang terletak di tengah-tengah senang minum susu.
- Penghuni rumah berwarna kuning merokok Dunhill
- Orang Norwegia tinggal di rumah paling pertama
- Orang yg merokok Marlboro tinggal di sebelah orang yg memelihara kucing
- Orang yg memelihara kuda tinggal di sebelah orang yg merokok Dunhill
- Orang yang merokok Winfield senang minum bir
- Di sebelah rumah berwarna biru tinggal orang Norwegia
- Orang yang merokok Marlboro bertetangga dengan orang yang minum air.

Pertanyaan:
Siapakah yang memelihara IKAN?
2

Indomie, Kasus Taiwan, dan Standar Kualitas

Adalah hal lumrah jika untuk produk yang laku, distribusinya bisa tersebar hingga ke mana saja. iphone atau blackberry contohnya. Produk untuk pasar luar negeripun bisa masuk ke Indonesia. BM istilahnya.

Kasus Indomie bisa jadi sama, bedanya, ini produk untuk dimakan yang tentunya perlu memenuhi standar sehat sesuai aturan baku. Nah, yang jadi masalah , di Taiwan ditemukan produk yang tidak memenuhi standar sehat di sana. Produk untuk pasar manakah ini seharusnya?

Terlepas dari itu semua, sebagai produk yang telah mendunia, seharusnya Indofood memiliki standar baku sendiri. Akan jauh lebih baik jika setiap produk lolos mutu untuk semua negara, bukan lolos di negara A, tapi tidak lolos di negara B. Kasus Taiwan bisa jadi pelajaran untuk semua, jika suatu produk sudah go international, maka untuk brand yang sama, kualitas juga harusnya sama, sesuai standar perusahaan, bukan hanya sesuai standar negara tertentu. Jika kualitasnya beda, ya sekalian saja pakai brand yang beda.

Market share Indomie dalam negeri sudah banyak tergerus oleh mie sedaap. Dalam arti, untuk pasar dalam negeri, trend declining indomie memang sudah berlangsung cukup lama. Di banyak daerah, mie sedaap sudah menjadi raja. Tapi indofood tidak hanya punya indomie. Masih ada sarimi dan supermi. Dua merk itu saban hari keluar iklannya di TV. Entah itu sarimi soto koya, atau supermi yang jadi sponsor utama acara TV tertentu. Yang jelas setahu saya, indofood masih punya 2 brand untuk tetap dominan di pasar mie instant.

Btw, akhir - akhir ini saya tidak pernah melihat iklan indomie. Apakah indomie menyerah thd mie sedap atau memang saya yang tidak pernah nonton TV? Jika saya boleh memberi saran, ada baiknya iklan indomie lebih ditingkatkan. Kasus Taiwan mungkin saja efeknya kecil terhadap end user secara langsung, tapi bagi reseller, efeknya bisa jadi instant. Toko yang biasanya mau membeli indomie sepuluh karton, karena khawatir susah laku, akhirnya pembeliannya menurun jadi lima karton. Misal serapan pelanggan toko tersebut masih sembilan karton, tetap saja yang terkonsumsi hanya lima karton, sisanya beralih ke merk lain yang tersedia. Secara kolektif, penurunan market share indomie bisa sangat signifikan. Tanpa iklan, pedagang akan merasa lebih aman menstok merk lain. Sama - sama menghasilkan uang, mengapa harus menstok produk yang beresiko, sementara brand ownernyapun seolah tidak peduli, bukan begitu?

3

Aqua Yang Hebat

Bicara produk air dalam kemasan, kinerja brand satu ini memang luar biasa. Saat lebaran, saat harga membumbung tinggi, aqua tetap dipilih, meski produk lain harga tetap. Meski sering diberitakan miring, penjualan tetap stabil. Bagaimana cara menggoyahkan tahta Aqua sbg leader air mineral kemasan?

Untuk jenis mineral galon, banyak yang tampil, tapi semua relatif kecil. Jika ada yang tumbuh, bukan market share Aqua yang termakan, tapi pemain kecil lain yang gulung tikar dan menghilang. Untuk mineral botol, rasa aqua memang lain. Ada aroma kelapa (atau aroma tisu?) yang jelas lebih enak rasanya. Untuk minuman mineral gelas, untuk event2 dadakan macam layatan, mungkin seadanya, tapi untuk acara kantoran atau lebaran, aqua dipilih karena gengsinya.

Dengan harga jual produk seperti saat ini, aqua adalah profit dan profit. Tidak perlu masuk bursa dan memperdagangkan saham, aqua tetap kaya. Bagaimana cara mengalahkan dominasi aqua?
3

Kegagalan Pemasaran Produk Baru FMCG

Ada banyak tantangan yang membuat sebuah produk/brand FMCG baru seringkali gagal di pasaran. Beberapa diantaranya :

1. Perbedaan kualitas
Ada kalanya karena suatu bisnis sedang booming, sebuah perusahaan besar ikut terjun ke bisnis yang semula dominan berisi pemain - pemain kecil. Hanya mengandalkan nama besar dan distribusi yang bagus saja seringkali tidak cukup jika produk yang di launch kualitasnya kurang kompetitif. Pemain kecil mendapatkan pangsa pasar terutama karena kualitas, bukan yang lain. Kalau ingin masuk, tentunya kualitas tidak boleh kalah, kelebihan publikasi dan distribusi jadi nilai tambah.


2. Alokasi budget distribusi
Sebuah produk baru masuk dengan iklan tv intensif, distribusi bagus, namun seringkali tidak menganggarkan budget cukup untuk jaringan distribusinya. Margin yang ditawarkan tidak cukup menarik bagi grosir/retail. Bagi reseller, ada terlalu banyak item barang yang bisa dijual.


3. Label harga
Label harga yang tertera dalam kemasan bisa jadi hal terburuk yang dilakukan untuk produk baru. Sebuah produk dilabel dengan harga sedikit lebih murah dibanding kompetitor dengan harapan bisa laku lebih banyak. Benarkah bisa begitu? Seringkali label harga justru membuat distribusi terhambat. Yang punya niat beli mungkin banyak, tapi siapa yang mau jual jika rentang marginnya dibatasi? Ada terlalu banyak toko kelontongan kecil, apakah semua bisa dicover sales resmi sehingga jalur distribusinya pendek? Tidak akan mungkin. Dengan label harga, kesempatan jadi sangat luas bagi kompetitor mendisplay produk mereka di outlet2 pelosok tanpa pesaing. Untuk produk baru dengan harga murah, sebaiknya tidak perlu dibandrol, kecuali produk memang sudah lancar dan distribusi mandirinya berjalan maksimal.


4. Konservatifism
Maksudnya? Perdagangan penuh perubahan. Data pasar, intuisi bisnis, banyak memegang peranan. Melihat pasar bagi seorang akademisi dan pekerja di lapangan bisa jadi berbeda. Menjadi konservatif, statis, dan bepijak pada keberhasilan prosedur standar masa lalu bisa jadi bumerang. Pasar bergerak.

FMCG sangat crowded, riuh. Banyak chalanger yang berguguran, menyisakan pendatang - pendatang baru yang tangguh dan produknya menjadi item reguler yang penjualannya terus mengalir sepanjang waktu.
2

Persaingan OS Ponsel

{ }
Akhir - akhir ini saya lagi suka memperhatikan persaingan OS ponsel pintar. Mulai android, iPhone OS, windows phone, symbian, sampai blackberry OS. Kalau dianalisa, siapa yang bakal unggul ya?

Beberapa waktu lalu, blackberry dan iphone menjadi primadona untuk smartphone. Uniknya, dua - duanya adalah produsen ponsel sekaligus OS nya. Jika dikilas balik ke jaman perkembangan komputer masa lalu, apa yang terjadi seperti persaingan komputer sebelum ada ms windows. Dengan tampilnya android, tren nampaknya mulai bergeser. Kembali lagi ke kilas balik, perkembangan ponsel saya pikir tidak akan jauh beda dengan komputer. Hardware jadi makin murah dan makin canggih, sementara software harus sesegera mungkin mengupdate dirinya untuk mengikuti perkembangan yang ada. Ke depan, saya hanya pegang 2 kandidat yang bakal bertarung seru. Windows phone dan Android. Hanya dua itu yang punya kans booming cepat dan terdistribusi optimal tanpa kehilangan momentum karena didukung distribusi dan fabrikasi harware multi vendor. Momentum iPad yang terganjal distribusi dan manufacturing yang kewalahan tidak akan terjadi.

Android dan windows phone, mana yang bakal unggul? Analis luar mengatakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, android akan mendominasi. Itu didasarkan pada infrastruktur yang sangat mendukung seperti online store, jumlah aplikasi pendukung, dan seterusnya. Jika ditilik dari saat ini, pendapat tsb mungkin benar. Motorolla, samsung, LG, dan banyak pabrikan lain tidak punya banyak pilihan untuk bisa berkompetisi melawan iPhone. Android hadir di saat yang tepat dan mendapat sambutan luar biasa.

Bagaimana dengan windows phone? Secara tradisional, orang lebih familiar dengan windows. Secara tradisional pula, hubungan windows phone dan windows pc teramat akrab. Pengguna android bertambah banyak, namun belum bisa diartikan bahwa rasa familiar itu bisa langsung terbentuk. Dengan kemampuan setara, saya pikir windows phone bisa bicara banyak. Dengan budget marketing hingga USD 500 juta, kali ini Microsoft nampaknya benar - benar serius terjun ke bisnis smartphone.
0

Dalam Lelapmu

{ }
saat mentari terusir gelap
dan keheningan memeluk sepi dan terlelap, membuaimu
papa tersenyum memperhatikanmu, anakku
dalam tidur, tanpa melakukan apapun
kau beri papamu kebahagiaan
4

Mencoba Aktif Kembali

{ }
Berbisnis offline ternyata cukup menguras waktu dan tenaga. Dari semula hanya beranggotakan 2 orang (saya dan nyonyah saya) kini sudah punya 3 karyawan. Semula hanya beromset ratusan ribu per hari, sekarang sudah di atas 5 juta. Perkembangan yang lumayan untuk toko kemaren sore. Alhamdulilah. Karena sudah ada yang bantu bantu, sekarang saya berniat aktif ngeblog lagi. Yah paling nggak 1 post per minggu. Demikian share saya kali ini sodara-sodara, semoga dapat segera disambung lagi.
2

Brand dan Sales Freelance

{ , }
Brand dan sales freelance, apa hubungannya? Sedikit info teknis dalam sebuah model distribusi dan pemasaran, sales freelance memberikan andil besar dalam pemerataan produk untuk area - area yang mungkin tidak akan dijamah oleh sales resmi, bahkan yang rapat sekalipun macam indomarco. Area - area yang banyak dijelajah oleh sales freelance umumnya adalah area pedesaan, pedalaman, dimana para penduduknya lebih mudah untuk loyal pada suatu brand karena memang terkondisikan untuk tidak memiliki banyak pilihan. Saat mereka sudah puas terhadap suatu brand, relatif sulit untuk membuat mereka mencoba brand baru, kecuali brand yang biasa mereka beli tidak tersedia di warung dimana mereka biasa berbelanja. Hal sama berlaku untuk warung. Mereka relatif sulit menerima brand baru karena yang mereka beli hanya sebatas apa yang biasa diminta konsumennya. Untuk sebuah warung kecil dengan anggaran terbatas, berbelanja memang benar - benar harus selektif. Untuk produsen yang baru melempar produk baru ke pasaran, ini adalah sebuah tantangan.

Di kota saya, Karanganyar, tercatat ada hampir 10.000 warung/toko/outlet, apapun sebutannya, yang melayani hampir 1 juta penduduk. 10 ribu outlet tersebut disuply dengan beragam cara. Mulai sales dari distributor resmi, wholesaler, hingga sales freelance. Dari sekian banyak cara, saat ini, sales freelance adalah yang paling banyak. Boleh percaya boleh tidak, dalam beberapa tahun terakhir, semenjak perusahaan menerapkan model outsource, banyak veteran yang akhirnya terjun jadi sales (opsi terakhirkah?), dan banyak warung/outlet yang lebih nyaman disuplay mereka daripada harus repot kulakan sendiri.

Dalam mendistribusikan produk, sales freelance (mayoritas motoris), memiliki kriteria produk yang diprioritaskan, diantaranya :
> fast moving
> ringan/ tidak makan tempat
> produk reguler
> memiliki margin tinggi

Produk fast moving/produk habis pakai jadi tiket untuk bisa masuk ke semua warung. Ringan dan tidak makan tempat jadi pertimbangan karena daya angkut yang terbatas. Brand reguler/ sudah terkenal dan umum juga sering dibawa (meski terpaksa) sekedar untuk tdk mengecewakan pelanggan. Dan yang terakhir, margin/profit menjadi filter krusial untuk produk - produk yang dibawa.

Jika dibuat urutan, maka prioritas sales freelance jadi seperti ini :
1. Brand reguler, fast moving, ringan, plus sedang promo (margin tinggi).
2. Brand baru/penantang (kompetitor market leader), fast moving, ringan, sedang promo (margin tinggi).
3. Produk reguler, margin tinggi (seperti stationary/elektrical/semacamnya)
4. Brand fast moving reguler (non promo)
5. Produk reguler yang berat, makan tempat, margin tipis, hampir tidak pernah dibawa.
6. Seperti no 5, plus bukan brand reguler, dipastikan tidak akan didistribusikan.

Dari banyak obrolan dengan para sales freelance, ada beragam info yang cukup menarik, diantaranya :

1. Daripada membawa kopi ABC susu/mocca/brownies, sales freelance lebih suka membawa kopi nescafe tubruk yang dijual dengan harga kopi ABC. Sama - sama kopi susu dengan ampas, nescafe tubruk mampu menggantikan posisi ABC di hanger warung - warung di daerah dan laba yang didapat lebih besar.

2. Meski permintaan terhadap sabun citra cukup tinggi, tapi dengan harga jual yang dipatok 1500 (via iklan, wtf!), sales jarang membawa produk tersebut. Tidak ada sales yang mau disuruh kerja bakti. Dengan harga end user yang sama (1500), mereka lebih memilih membawa sabun Giv, brand reguler yang jelas lebih menguntungkan untuk dibawa (kemasan per karton lebih kecil, margin lebih tinggi).

3. Sales malas membawa brand lama yang terbukti kalah bersaing meski ditawarkan harga promo (yang dimaksud promo di sini adalah reseller promo, bukan end user promo). Sales bukan marketer, mereka sekedar mendistribusikan produk dan mendapat laba dari selisih harga jual dan harga beli, tidak untuk 'memasarkan' suatu brand demi raihan laba yang lebih tinggi. Daripada membawa produk yang sudah pasti lambat, lebih baik gambling dengan produk baru.

Sales freelance dominan di kanal tradisional. Mereka tangguh, berdaya jelajah tinggi, dan bekerja tanpa kenal lelah karena apa yang mereka usahakan adalah apa yang mereka dapat. Tanpa gaji. Dengan makin banyaknya jumlah mereka, strategi penetrasi brand bisa saja berubah, bagi yang tahu. Kanal tradisional adalah jalan bagi brand - brand senior untuk tetap bertahan di tengah gempuran produk - produk baru. Meski di kanal modern sudah tidak terjamah, brand senior masih saja dipajang di warung - warung pedesaan, tempat pilihan amat terbatas, dengan kemungkinan terbeli lebih besar.
5

Mengapa Orang Mau Mengeluarkan Uang?

{ }
Mengapa orang mau mengeluarkan uang? Secara individual, mungkin bisa dipilah - pilah seperti ini :

- Untuk memenuhi kebutuhan
Apa yang dimaksud kebutuhan? Anda mungkin tidak ingin membeli obat, tapi anda harus karena anda butuh itu untuk sembuh. Anda tidak ingin membeli makanan, tapi anda harus jika ingin tetap hidup. Itulah kebutuhan. Mau tidak mau, harus tetap dibeli meski sebenarnya ada yang lebih ingin kita beli. Orang yang masih menggantungkan diri pada orang lain (anak - anak misalnya), baru mengerti tentang keinginan karena orang tuanyalah yang memikirkan kebutuhan. Kalau sudah mandiri (dan sebaiknya diajarkan sejak dini), baru mereka mengerti arti kebutuhan.

- Untuk memenuhi keinginan
Keinginan itu apa sih? Kita butuh makan, kita ingin makan nasi goreng. Kita butuh hiburan, kita ingin nonton konser. Pada dasarnya, keinginan adalah opsi. Setiap kebutuhan selalu dipenuhi dengan beragam opsi dimana bisa kita pilih sesuai keinginan kita (dengan biaya yang berbeda - beda). Di atas kebutuhan ada keinginan, dan kita mungkin bersedia membayarnya sampai batas harga yang tidak membuat keinginan itu hilang dengan sendirinya. Kebutuhan bisa dicukupi, tapi keinginan itu tanpa batas.

- Untuk menghilangkan penasaran
Sebenarnya tidak butuh, tadinya tidak ingin, tapi karena penasaran, akhirnya nyoba makan daging ular juga. Setelah mencoba, keinginan yang sama mungkin tidak pernah terulang, tapi bisa juga justru jadi kebutuhan. Mengambil contoh suatu produk, bisa dibilang, setiap produk baru, dibeli (atau dicoba) karena ingin menghilangkan rasa penasaran. Jika produk berhasil, terjadi pembelian berulang atau (bahkan) menciptakan genre kebutuhan baru. Pemutih atau pewangi pakaian misalnya, sekarang jadi kebutuhan dengan opsi beragam merk. Dari data statistik (maaf lupa sumbernya), tidak lebih dari 20% produk baru bisa survive, selebihnya jadi kenangan.

Dengan kehidupan modern yang semakin kompleks, kebutuhanpun jadi terus bertambah. Tadinya tidak butuh beli ban baru, sekarang jadi butuh karena punya mobil. Tadinya tidak butuh regulator LPG, sekarang jadi butuh karena hampir nggak ada lagi yang menggunakan kompor minyak. Semakin beragam ketergantungan manusia pada suatu alat/hal, makin banyak pula kebutuhan yang harus dicukupi, dan semakin banyak pula dana yang harus dikeluarkan.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya agar orang mau mengeluarkan uang untuk produk/jasa yang kita berikan? Yak,.. lanjut posting mendatang aja deh...^_^
7

Mengejar Pasif Income

{ , , }
Kalo orang bilang sih, pasif income adalah income yang didapat karena aset yang kita miliki, bukan karena kerja yang kita lakukan. Mudahnya saja untuk blog bisnis. Blog bisa dipandang sebagai aktif income, tapi juga bisa dipandang sebagai pasif income. Blog menjadi aktif income saat kita terus berkutat dengan blog untuk membuatnya terus menghasilkan. Sementara, blog menjadi pasif income saat blog bisa terus menghasilkan tanpa harus kita berkutat terus menerus untuk mengurusnya.

Untuk membuat blog menjadi pasif income, kita harus membuat blog menjadi sebuah aset produktif. Misalkan saja kita ingin mendapat penghasilan pasif dari adsense. Kita tidak harus terus berkutat/terikat bertahun - tahun dengan blog tersebut. Kita bisa bikin plan 1 bulan. Kerja keras memaksimalkan blog dengan tema - tema bahasan unik dan tidak terikat waktu, maksimalkan SEO dan segala sesuatunya hanya dalam 1 bulan, lalu tinggalkan. Update seperlunya saat kita punya waktu luang. Hanya dengan cara seperti itu, kita sudah punya sebuah aset yang menghasilkan income berupa sebuah blog, tanpa perlu modal.

Di dunia nyata, orang bisa memiliki pasif income yang besar dengan cara yang relatif sama. Semua diawali dengan kerja keras sebelum ia memiliki asetnya yang bertama (kecuali emang punya warisan). Multimiliuner macam Bill Gates pun sekarang bisa ongkang - ongkang karena sebelumnya bekerja keras (dan cerdas) untuk menciptakan aset produktif.

Aset produktif sebenarnya bisa dibuat dari apa saja. Ambil contoh apa yang ada di rumah kita saja. Kulkas. Jika tidak 'diproduktifkan', kulkas adalah beban karena tiap bulan kita perlu bayar tagihan listriknya. Membuat kulkas jadi penghasil income pasif sebenarnya mudah. Modal triplek sama spidol. Tulis "Jual Es Batu" lalu pajang depan rumah. Suruh si iyem bikin es batunya. Dalam sebulan, beban listrik bisa tercover dari jualan es batu, bahkan mungkin bersisa. Klo kita anak kos, tulis aja di depan kamar, "Jual Es batu & penitipan minuman botol". Uangnya bisa jadi lebih dari cukup untuk bayar listrik kamar kos. Mungkin ada yang bilang, "kok itungan banget sih?", hehe.. Namanya calon pengusaha, sejak mahasiswa harus tahu bagaimana caranya menghasilkan uang.

Yak, pasif income sebenarnya bisa didapat dari beragam cara. Tidak harus punya properti, saham, atau semacamnya. Jika dari yang kecil - kecil sudah fasih, untuk yang besar ga akan kaget, justru lebih lancar dan berpengalaman. Yuk tengak tengok sekeliling, kira - kira ada ga ya yang bisa dijadikan sumber pasif income?
5

Kecewa dengan Virtual Consulting

{ }
Beberapa waktu lalu saya sempat memberikan komentar bernada kontra di blog virtual cons. Setelah ganti theme, komentar saya itu tidak ada lagi. Sebenarnya saya tidak terlalu kecewa jika komentar bernada kontra yang hilang itu cuma milik saya, karena isinya memang nggak penting - penting amat. Sayangnya, komentar lain yang cukup memberikan wawasan juga dihilangkan. Komentar tersebut berisi informasi tentang pendapatan iklan koran tahun 2005, anggaran baliho, pendapatan iklan TV, dan beberapa argumen balasan mengenai pertumbuhan iklan cetak vs iklan online. Intinya, info tambahan tersebut penting untuk direnungkan bagi pemasar online.

Tapi mengapa? Mengapa harus hilang? Apakah kini komentar blog hanya boleh pro saja, nggak boleh kontra?
5

Kasus Rokok Meledak

{ }
Mungkin jika perokok ditakut - takuti dengan penyakit kanker paru - paru atau impoten, nggak akan bikin jera, tapi jika kasusnya seperti berita yang dilansir detik.com, kayaknya bakal mikir - mikir juga untuk terus merokok. Seorang satpam kehilangan 5 gigi plus mendapat 51 jahitan karena rokoknya meledak. Fyuh... kebayang lagi enak - enaknya ngisep rokok, tahu - tahu ..BOOMM. Serem juga.

Kalau rokok sih normalnya ga mungkin meledak. Lain cerita klo ada pegawai pabrik rokok yang stress lantas iseng2 ngasih bubuk dinamit atau mesiu di dalam rokok. Wah, bisa berabe tuh. Satu atau dua kasus masuk koran cukup untuk membuat para perokok jadi paranoid dengan yang namanya rokok.

Wokeh.. smoker, coba tekan2 dulu batang rokoknya. Klo terasa ada yang mengganjal, jangan diisap. Kali aja isinya mercon cabe rawit ^_^.
2

Melawan Produk - produk Cina

{ }
Produk - produk Cina yang membanjiri pasar dalam negri sebenarnya bisa dilawan dengan beragam cara, yang jelas bukan dengan mengintervensi kesepakatan dagang yang sudah dibuat oleh para pemimpin negara sebelumnya. Ada yang perlu digaris bawahi bahwa tetap akan ada bisnis yang mati. Tidak semua produk Indonesia kompetitif dan siap berkompetisi. Tidak semua pengusaha mau berkompetisi, atau bisa dikata, ada saja pengusaha yang maunya terus digendong dan dilindungi oleh regulasi agar bisnisnya bisa jalan. Yang seperti ini justru membuat bangsa ini sulit menemukan sisi keunggulannya untuk bisa bersaing di pasar bebas karena terus mengulur waktu untuk lini bisnis yang kans menangnya kecil di pasar global.

Dunia memilih. Kenyataannya seperti itu. Untuk memproduksi peralatan elektronik, brand - brand besar memilih China sebagai lokasi produksi. Entah Sony, Samsung, atau yang lain. Budaya fabrikasi elektronik sudah terbentuk di sana, dalam arti, bahan baku dan aneka part dari hulu ke hilir semua sudah tersedia dan sangat kompetitif. Untuk harga, mungkin tidak ada negara yang bisa mengalahkan China.

Jika bersaing murah - murahan keteteran, akan sangat baik jika mulai melangkah ke peningkatan kualitas produk dengan harga medium. Pasar untuk produk murah memang menggiurkan, tapi jika tidak mampu bersaing ya tidak ada gunanya. Pasar untuk produk kualitas medium bukannya tidak ada, justru masyarakat sekarang mulai berpaling ke sana. Yang salah justru jika ikut bersaing harga yang berujung pada kualitas yang terlalu 'hancur'. Yang seperti ini tidak akan bertahan lama.

Ada ketakutan bahwa perdagangan bebas merugikan Indonesia, namun sebenarnya lebih tepat jika dikatakan, pasar bebas merugikan beberapa industri di Indonesia, tapi tidak semua. Jenis2 industri yang tersingkir mungkin memang jenis yang tidak tepat untuk tumbuh di Indonesia, lebih tepat jika tumbuh di negara lain. Potensi runtuhnya industri yang mengakibatkan pengangguran yang sering diberitakan kadang tidak diimbangi dengan kalkulasi potensi berkembangnya industri lain yang membutuhkan tenaga kerja baru. Dalam arti kata, dari sudut pandang sebuah negara yang melihat lebih integral, perdagangan bebas tetap positif, paling tidak, ada efisiensi dengan hilangnya sebuah birokrasi yang rentan korupsi.

Sekarang bukan saatnya mundur. Tetap maju, berfikir positif, dan berusaha melihat celah dan potensi sekecil apapun. Mengeluh, menangis, dan merajuk tidak banyak membantu. Dunia sudah memilih.
0

Analisa beragam bisnis (part 1)

{ }
Sejalan dengan waktu, saya mulai rajin menganalisa beragam bisnis yang mungkin dijalankan untuk skala kecil - menengah. Sejauh ini fokus masih di jenis usaha perdagangan. Untuk lini bisnis satu ini, variabel yang menjadi pertimbangan sifatnya subyektif, alias berdasar pada asumsi saya pribadi dengan melihat apa yang terjadi di lapangan. No text book.

1. FMCG
Fast moving consumer goods atau barang kebutuhan sehari - hari habis pakai merupakan pilihan paling umum untuk bisnis dagang. Disamping dibutuhkan siapa saja, modal kecil atau berlokasi di pelosok desapun usaha ini bisa jalan. Produk2 yang dijual terbagi 2, yaitu produk branded dan komoditas. Produk branded adalah produk bermerk dimana harga lebih stabil karena ada harga dasar yang berasal dari produsen, sedang komoditas adalah produk yang naik turunnya harga benar - benar bergantung dari mekanisme pasar, seperti suply - demand, atau (kadang kala) ada campur tangan pemerintah. Untuk mendapatkan profit lebih banyak, hal yang bisa dilakukan diantaranya : untuk produk branded, 1)membeli dalam jumlah besar. 2) Membeli dari grosir besar (makro misalnya) saat mereka over stock (atau produk mendekati expired). Untuk produk komoditas, maka harus jeli melihat tren pasar. Ini bisa dilakukan dengan update via internet, atau jika tipe old fashionednya, dengar berita radio. Ingat berita radio tentang cabe kriting? Thats it. Act selanjutnya bisa dengan membeli jumlah besar saat harga mau naik, atau buru - buru lepas barang saat harga cenderung turun. Solusi lain saat tren harga naik, borong produk di grosiran besar. Mereka biasanya terjebak birokrasi jadi agak lambat merespon perubahan harga. Bagi anda yang sekedar berdagang kelontong untuk kesibukan, menunggu sales kelilingan itupun cukup. Penghasilan yang didapat tetap lebih besar dibanding menyimpan uang di bank.

2. Perlengkapan rumah tangga
Barang perlengkapan rumah tangga merupakan pilhan menarik. Mulai dari perlengkapan dapur, elektronik, hingga furnitur bisa memberikan hasil optimal jika dikelola dengan profesional. Saat generasi komputer dan IT booming menggadaikan masa depan dan penghasilannya di bisnis teknologi modern, barang - barang kebutuhan rumah tangga yang nampak sepele bisa menjadi lahan subur untuk mendapatkan penghasilan. Banyak orang melihat jauh ke depan, tapi minim informasi tentang produk2 yang mungkin tiap hari mereka gunakan (sapu, pel, dll). Produk2 offline yang (hampir tidak mungkin) anda beli online ^_^, kecuali grosir besar. Barang - barang bisa dipilah menjadi 2. Yang pertama adalah barang yang punya kecenderungan harganya terus naik, yang kedua adalah barang yang punya kecenderungan harganya turun (elektronik misalnya). Jika ingin aman, lebih banyak investasikan di produk yang punya kecenderungan naik. Barang tipe ini cenderung awet, dan tentunya pembelian terjadi dalam repetisi rendah. Jika berani ambil resiko, sisihkan untuk elektronik. Jika bisa jual cepat, margin elektronik lebih besar dan repetisi belinya lebih tinggi.

3. Bahan bangunan
Bisnis ini makin booming saja akhir - akhir ini. Dimana - mana tumbuh yang namanya toko bangunan. Jika dulu toko bangunan cuma ada di kota, kini di mana - mana ada. Bisnis ini butuh investasi dan relasi yang cukup. Tidak jarang toko perlu menjual tempo untuk melayani kontraktor2 yang mendapatkan bayaran dalam termin tertentu. Untuk produk2 reguler seperti semen, pasir, dan semacamnya, biasanya harganya standar (rata - rata margin tipis), tapi untuk produk lain, bisa ambil margin cukup besar. Biasanya konsumen membeli produk reguler plus produk lain, dan laba produk lain ini bisa sangat signifikan. Yang perlu hati - hati adalah masalah pengelolaan piutang dan cashflow. Banyak toko yang tutup karena masalah satu ini.

Karena ragamnya sangat banyak, untuk part 1 ini saja dulu. Untuk lainnya dilanjutkan lain waktu.
3

Memulai Bisnis dari Nol

{ }
Memulai dari nol, kok kayaknya modal dengkul banget ya. Tapi memang sebenarnya tidak benar - benar nol sih. Modal cash tetap ada, hanya saja sangat dibatasi agar lebih bijak mengelolanya. Modal pengetahuan benar - benar dari nol, pengalaman dari nol juga. Jadi bisa dikata, modal utamanya hanya berani dan siap belajar sambil jalan.

Jadi, bagaimana sebuah usaha dagang bisa jalan dengan modal cash yang sangat terbatas? Tentu ada caranya. Karena ruang usaha milik sendiri, ya dekor dikit - dikit dulu ruang usahanya. Yang penting keliatan kalau itu ruang usaha dan ada dagangan yang bisa dibeli. Sesederhana itu. Dagangan awal targetnya untuk konsumen accidental, jadi konsumen yang dadakan berhenti buat beli kebutuhan umum. Jadi stok hanya sebatas rokok, minuman, permen, dan semacamnya. Jumlahnya minim, tapi kardusnya banyak. Kardus tidak dibuang tapi dipajang juga, biar keliatan stoknya banyak, padahal isinya kosong :D.

Sambil jalan, cari - cari sumber produk dengan harga miring. Kayak tamasya, cuma tujuannya pasar, grosiran, distributor, dan semacamnya. Pelajari tren, perubahan harga, sistem pembelian dan semacamnya. Tidak lupa, lobi sana sini nyari investor dan pedagang yang mau nitip jual. Yup. Bulan pertama adalah belajar sambil toko tetap buka. Income memang sedikit, tapi pengetahuan bertambah banyak, termasuk kenalan sales, rujukan kulakan, dan tentu saja, orang - orang yang pingin nitip dana dan dagangan. Well, akhirnya toko keliatan penuh terisi.

Selanjutnya memilah - milah produk. Mana produk reguler untuk menjaring trafik, mana produk khas untuk meraih laba. Selanjutnya, still on progres...
 
poside by budityas |n|e